Syekh Abdul Kholiq Al Hamid - in memoriam

Ada tiga jasa besar Syekh Abdul Kholiq Al Hamid yang bisa kita catat dalam perjalanan hidup beliau, antara lain dalam penyebaran agama islam dan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Berikut ini catatan-catatan kecil tokoh Gresik utara yang sangat terkenal itu.

1. Salah satu pendiri masjid jami’ Ainul Yaqin

Untuk mengupas dan mengungkap jasa-saja beliau, maka kita tidak akan lepas dari keberadaan masjid jami’ Ainul Yaqin Ujungpangkah. Sebab di tempat itulah seorang penghulu (naib) menjalankan tugas kesehariannya melayani umat (masyarakat ujungpangkah), khususnya hal-hal yang menyangkut masalah keagamaan. Bahkan menurut cerita, pada lokasi sekitar masjid dan alon-alon Ujungpangkah dahulu merupakan sentral aktifitas kehidupan masyarakat Ujungpangkah yang masih diwarnai oleh pengaruh Hindu – Budha.

Di depan masid dulu terdapat dua tugu/candi bentar (dalam konsep Hindu – Budha bangunan tersebut disebut paduraksa) yang berfungsi sebagai pintu gerbang sebuah kerajaan, tapal batas dan pura, tempat pemujaan kepada leluhur .

Dengan diangkatnya Jiwo Suto sebagai penghulu di Ujungpangkah oleh Kanjeng Sepuh, maka beliau membangun sebuah surau/langgar dimana di tempat itu sebagai sarana melaksanakan aktifitasnya sebagai penghulu. Maka, mulailah beliau melakukan akulturasi (memadukan budaya Hindu – Budha dengan Islam) sehingga secara lambat laun bangunan candi atau tugu yang semula menjadi tempat pemujaan dialih fungsikan menjadi qori agung atau gapura pintu masuk surau/langgar.

Pada saat yang sama pada tahun 1857 dilakukan renovasi masjid agung Sunan Giri. Dalam cerita rakyat Ujungpangkah tiang Masjid Jami’ Ainul Yaqin merupakan kiriman dari Sunan Giri yang dibawa oleh santirnya bernama Raden Mas Kiriman. Oleh karena itu, masjid jami’ Ujungpangkah diberi nama Ainul Yaqin sesuai dengan salah satu nama Kanjeng Sunan Giri.

Dari cerita rakyat di atas dan proses renovasi Masjid Agung Sunan Giri, dapat ditarik garis lurus bahwa apabila empat tiang (soko) Masjid Jami’ Ainul Yaqin merupakan sisa tiang Masjid Agung Sunan Giri yang telah direnovasi tahun 1857. Maka proses pembangunan masjid jami’ Ainul Yaqin tidak lepas dari jasa Abdul Kholik Al Hamid (Jiwo Suto) karena pada tahun tersebut beliau masih hidup (menjabat sebagai penghulu) dan bertempat tinggal di sekitar masjid jami’ Ainul Yaqin.

2. Pahlawan dan pejuang kemerdekaan

Secara kronologis masa hidup Jiwo Suto adalah masa dimana bangsa Indonesia sedang berjuang melawan penjajah (masa revolusi kemerdekaan). Peran serta dan ketokohan beliau sebagai seorang wali menjadi benteng awal dan penggerak perjuangan merebut kemerdekaan, hal tersebut sama halnya dilakukan oleh Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, KH. Hasyim Asyari, KH. Ahmad Dahlan, dan tokoh-tokoh lainnya.

Kebencian beliau terhadap penjajah dapat dilihat jelas atas kesediaan dan keterlibatan Jiwo Suto yang mau menggantikan posisi Kanjeng Sepuh diadu dengan banteng di Alun-alun Surakarta sebagai hukuman atas sikap Kanjeng Sepuh yang membenci kehadiran Belanda di tanah Jawa (Solo).

Pertanyaan adalah, mengapa Jiwo Suto bersedia menggantikan Kanjeng Speuh menerima hukuman diadu dengan banteng di Solo? Apa sebatas seorang guru yang membela sang murid? Ataukah jiwo suto ingin mendapat ujian atau imbalan dari Kanjeng Sepuh? Jawabannya jelas, bahwa rasa nasionalisme dan kecintaan Jiwo Suto terhadap bangsa dan negara ini menjadi dasar baginya untuk berani mengambil resiko serta sebagai ungkapan dan sikap perlawanannya terhadap kehadiran penjajah Belanda di Indonesia.

Dari berapa uraian di atas, maka dapat di simpulkan bahwa Jiwo Suto mempunyai jasa dan andil yang besar tidak hanya bagi masyarakat Ujungpangkah secara khusus, tetapi juga terhadap bangsa dan negara.

3. Penyebar Islam (Waliyullah) di Gresik Utara

Tidak diragukan lagi bahwa Jiwo Suto merupakan salah satu dari sekian banyak waliyullah (penyebar islam) di Gresik Utara. Hal tersebut dapat dikeumakan karena peran dan kedudukan beliau sebagai guru sekaligus penasehat Kanjeng Sepuh yang sudah tentu mempunyai posisi penting dan berpengaruh terhadap kebijakan-kebijakan Kanjeng Sepuh atas wilayah yang dipimpinnya (wilayah kawedanan Sidayu dan sekitarnya).

Peran dan perjuangan beliau semakin Nampak jelas bagi masyarakat Ujungpangkah tatkala beliau diangkat menjadi penghulu (naib), dimana jabatan tersebut menyebabkan Jiwo Suto adalah sebagai figur sentral (panutan) masyarakat, sebagai tempat menambah ilmu, memecahkan berbagai masalah dan persoalan masyarakat tidak hanya terbatas masalah-masalah agama tetapi juga masalah sosial.

Atas jasa beliau tersebut, maka tak heran jika Jiwo Suto dikenal luas oleh masyarakat Ujungpangkah, SIdayu dari semua lapisan, semua generasi dan semua golongan. Bahkan bagi masyarakat Ujungpangkah dan Sidayu, tokoh ini dianggap sebagai lem perekat sejarah Ujungpangkah dan Sidayu, yang menyatukan keanekaragaman masyarakat kedua wilayah tersebut.

No comments:

Post a Comment